Ketika transaksi digital menjadi bagian dari bisnis, risiko payment fraud juga semakin perlu diperhatikan.
Bagi e-commerce dan bisnis O2O, tingginya volume transaksi membuat pemeriksaan manual semakin sulit dilakukan.
Menurut MRC Global eCommerce Payments & Fraud Report (2026), sekitar 3,2% pendapatan e-commerce global diperkirakan hilang akibat payment fraud.
Sebanyak 45% merchant melaporkan penipuan pembayaran real-time sebagai serangan penipuan kedua yang paling banyak dihadapi.
Oleh karena itu, bisnis membutuhkan kemampuan untuk mendeteksi transaksi berisiko dan menentukan tindakan secara cepat, sehingga transaksi mencurigakan dapat segera ditangani sebelum menimbulkan kerugian.
Apa Itu Payment Fraud?
Secara sederhana, payment fraud adalah aktivitas penipuan atau penggunaan sistem pembayaran secara tidak sah untuk memperoleh keuntungan yang merugikan bisnis atau pihak lain.
Dalam bisnis digital, fraud dapat terjadi pada berbagai tahap transaksi, mulai dari pembuatan order hingga pembayaran dan pengajuan pengembalian dana.
Bentuk penipuan pembayaran digital juga dapat melibatkan akun, perangkat, transaksi, atau pola perilaku yang mencurigakan.
Karena karakteristiknya dapat berbeda, bisnis perlu melihat lebih dari sekadar nominal atau status pembayaran untuk menilai risikonya.
Bentuk Payment Fraud yang Perlu Diwaspadai
Payment fraud dapat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada model bisnis dan alur transaksinya. Beberapa jenis yang umum perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Unauthorized Payment
Unauthorized payment terjadi ketika transaksi dilakukan tanpa otorisasi dari pemilik akun atau metode pembayaran yang sah.
Kondisi ini dapat menyebabkan kerugian finansial dan meningkatkan potensi chargeback bagi bisnis.
2. Fake Transactions
Fake transactions merupakan transaksi yang dibuat atau dimanipulasi untuk memperoleh keuntungan secara tidak sah.
Pada e-commerce, misalnya, transaksi palsu dapat digunakan untuk mendapatkan diskon, voucher, atau keuntungan lainnya.
3. Malicious Cashing Out
Malicious cashing out terjadi ketika sistem pembayaran atau promosi dimanfaatkan untuk memperoleh atau mencairkan dana secara tidak semestinya.
Aktivitas ini dapat meningkatkan kerugian bisnis jika tidak terdeteksi sejak awal.
4. Money Laundering
Sistem pembayaran juga dapat disalahgunakan untuk memindahkan atau menyamarkan dana yang berasal dari aktivitas ilegal.
Maka dari itu, transaksi perlu dinilai berdasarkan konteks dan pola aktivitas yang menyertainya.
5. Chargeback Fraud
Chargeback fraud terjadi ketika proses pengembalian dana disalahgunakan untuk mendapatkan pengembalian dana atas transaksi yang sebenarnya sah.
Bagi bisnis, kondisi ini dapat menambah biaya operasional dan menyebabkan kehilangan pendapatan.
Baca juga: Apa Itu Digital Onboarding? Manfaat dan Contoh Penerapannya untuk Bisnis
Mengapa Payment Fraud Menjadi Risiko bagi Bisnis Digital?
Payment fraud dapat memengaruhi lebih dari sekadar transaksi yang bermasalah. Beberapa dampaknya bagi bisnis adalah sebagai berikut:
1. Menimbulkan Kerugian Finansial
Transaksi fraud dapat menyebabkan kehilangan dana, biaya chargeback, penyalahgunaan promo, hingga biaya tambahan untuk proses investigasi dan penanganan.
2. Terjadi di Tengah Volume Transaksi yang Tinggi
E-commerce dan O2O dapat memproses transaksi dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Semakin tinggi volumenya, semakin sulit bagi tim untuk memeriksa setiap transaksi secara manual.
3. Memerlukan Respons yang Cepat
Pada transaksi digital, keputusan perlu dibuat dalam waktu singkat. Jika risiko baru diketahui setelah transaksi selesai, peluang bisnis untuk mencegah kerugian dapat menjadi lebih kecil.
4. Mengganggu Customer Experience
Payment fraud dapat membuat pelanggan mengalami transaksi tidak sah, penyalahgunaan akun, atau proses pemulihan transaksi yang bermasalah.
Kondisi tersebut dapat mengurangi rasa aman dan kepercayaan pelanggan terhadap bisnis.
Bagaimana Payment Fraud Detection Bekerja?
Payment fraud detection membantu bisnis menilai tingkat risiko sebuah transaksi sebelum menentukan tindakan. Prosesnya dilakukan melalui beberapa tahap sebagai berikut:
1. Mengumpulkan Data Transaksi
Sistem mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan transaksi, seperti data akun, perangkat, IP address, session, serta detail transaksi.
2. Menganalisis Sinyal Risiko
Data tersebut kemudian dianalisis untuk melihat indikasi risiko.
Faktor yang dapat dipertimbangkan meliputi device risk, environmental risk, account risk, behavioral risk, dan riwayat aktivitas yang pernah dilaporkan.
3. Menghasilkan Risk Score dan Risk Tags
Hasil analisis dapat digunakan untuk menghasilkan risk score dan risk tags yang membantu bisnis memahami tingkat serta karakteristik risiko suatu transaksi.
4. Menentukan Risk Decision
Berdasarkan hasil penilaian, transaksi dapat diberikan keputusan seperti pass, review, atau reject. Dengan cara ini, bisnis dapat menerapkan tindakan yang berbeda sesuai tingkat risiko.
5. Menindaklanjuti Transaksi Berisiko
Transaksi dengan risiko lebih tinggi dapat diarahkan untuk pemeriksaan atau tindakan tambahan, sementara transaksi yang dinilai aman dapat tetap berjalan tanpa proses yang tidak diperlukan.
Baca juga: Cloud Security: Manfaat dan Cara Melindungi Infrastruktur Cloud
Komponen Penting Payment Fraud Detection
Payment fraud detection perlu mampu menilai risiko transaksi secara cepat dan menyeluruh. Beberapa kemampuan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Mendeteksi Risiko Secara Real-Time
Transaksi digital berlangsung cepat, sehingga sistem perlu mampu menilai risiko ketika aktivitas terjadi.
Deteksi yang terlalu lambat dapat membuat bisnis baru mengetahui fraud setelah transaksi selesai.
2. Menggunakan Berbagai Sinyal Risiko
Satu indikator belum tentu cukup untuk menentukan apakah transaksi aman.
Bisnis perlu menggabungkan informasi perangkat, akun, perilaku, lingkungan, dan riwayat aktivitas untuk mendapatkan gambaran risiko yang lebih lengkap.
3. Mengurangi False Positive
Transaksi yang sebenarnya sah dapat terlihat mencurigakan karena pola tertentu.
Apabila terlalu banyak transaksi valid yang ditolak, bisnis dapat kehilangan penjualan dan menciptakan friction bagi pelanggan.
4. Menyesuaikan Risk Policy
Setiap bisnis memiliki karakteristik transaksi dan tingkat risiko yang berbeda.
Maka dari itu, aturan dan tindakan terhadap transaksi berisiko perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kebijakan bisnis.
Baca juga: Apa Itu e-KYC? Tujuan, Cara Kerja, dan Penerapannya untuk Bisnis
Bagaimana Cara Mencegah Payment Fraud?
Beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam pencegahan payment fraud adalah sebagai berikut:
1. Gunakan Real-Time Risk Assessment
Nilai risiko saat transaksi berlangsung agar aktivitas mencurigakan dapat terdeteksi dan ditangani lebih cepat.
2. Analisis Berbagai Sinyal Risiko
Gunakan berbagai informasi seperti device, environment, account, behavior, dan riwayat aktivitas untuk mendapatkan penilaian risiko yang lebih menyeluruh.
3. Terapkan Keputusan Berdasarkan Tingkat Risiko
Tidak semua transaksi mencurigakan harus langsung ditolak.
Risk-based decision memungkinkan bisnis menentukan apakah transaksi dapat diteruskan, ditinjau, atau ditolak sesuai tingkat risikonya.
4. Sesuaikan Risk Policy dengan Kebutuhan Bisnis
Setiap bisnis memiliki karakteristik transaksi dan tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, aturan deteksi dan tindakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta kebijakan bisnis.
5. Integrasikan Fraud Detection ke Alur Transaksi
Fraud detection perlu terhubung dengan sistem transaksi agar hasil risk assessment dapat digunakan langsung dalam proses pengambilan keputusan tanpa mengganggu alur pembayaran.
Perkuat Perlindungan Transaksi Digital dengan Tencent Risk Control Engine
Bagi bisnis e-commerce dan O2O, tingginya volume transaksi membuat payment fraud semakin sulit ditangani secara manual.
Real-time risk assessment membantu bisnis mengenali transaksi berisiko, menilai tingkat risikonya, dan menentukan tindakan yang sesuai sebelum menimbulkan kerugian.
IDstar menyediakan Tencent Risk Control Engine (RCE) untuk membantu perusahaan mengintegrasikan payment fraud detection ke dalam alur transaksi sesuai kebutuhan bisnis.
RCE membantu bisnis melalui:
- Real-Time Risk Assessment: menilai risiko transaksi secara langsung.
- Risk Score & Tags: mengidentifikasi tingkat dan jenis risiko.
- Risk Decision: Risk Decision: menentukan apakah transaksi dilanjutkan, ditinjau, atau ditolak berdasarkan hasil penilaian risiko..
- Multi-Signal Analysis: menganalisis device, account, behavior, environment, dan riwayat aktivitas.
- API Integration: menghubungkan risk assessment dengan sistem transaksi.
- Risk Policy Management: menyesuaikan aturan risiko dengan kebutuhan bisnis.
Sebagai Authorized Partner, IDstar siap membantu perusahaan mengimplementasikan dan mengintegrasikan Tencent Risk Control Engine (RCE) untuk memperkuat keamanan transaksi digital.
References:
Forbes. “Customers Pay The Price Of Policy Abuse—The State Of ECommerce Fraud.” 2025.
Merchant Risk Council (MRC). “2026 Global eCommerce Payments & Fraud Report.” 2026.
Tencent Cloud. “Risk Control Engine – Overview.”



