Website, aplikasi, dan layanan digital semakin banyak digunakan perusahaan untuk melayani pelanggan, memproses transaksi, dan menyediakan layanan real-time.
Kecepatan pertukaran data memengaruhi seberapa cepat pengguna menerima respons. Salah satu faktornya adalah latency, yaitu jeda waktu dalam perpindahan data melalui jaringan.
Latency tinggi dapat memperlambat respons dan mengganggu operasional maupun user experience. Kondisi ini tidak selalu dapat diatasi dengan menambah kapasitas jaringan karena latency dipengaruhi jarak, routing, dan kondisi jaringan.
Dengan demikian, perusahaan perlu memahami penyebab utama latency, sehingga dapat menentukan pendekatan yang tepat untuk menguranginya.
Apa Itu Latency?
Latency adalah waktu yang dibutuhkan data untuk berpindah dari satu titik ke titik lainnya dalam jaringan.
Dalam konteks website dan aplikasi, latency menggambarkan jeda antara permintaan pengguna dan respons yang diterima, yang umumnya diukur dalam milidetik (ms).
Sederhananya, latency dapat dibayangkan seperti waktu tempuh dalam perjalanan. Semakin singkat waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan, maka semakin rendah latensi jaringannya.
Bagi perusahaan, latency rendah dibutuhkan agar website, aplikasi, dan layanan digital dapat merespons permintaan pengguna dengan lebih cepat, terutama pada layanan yang membutuhkan interaksi secara real-time.
Apa Penyebab Latency Tinggi?
Latency dapat dipengaruhi oleh kondisi jaringan, jarak antara pengguna dan server, hingga proses pada infrastruktur aplikasi. Beberapa faktor yang umum adalah sebagai berikut:
1. Jarak antara User dan Server
Semakin jauh jarak antara pengguna dan server, semakin panjang perjalanan data yang perlu ditempuh. Data juga dapat melewati lebih banyak jaringan atau titik koneksi sebelum mencapai tujuan.
Kondisi ini dapat lebih terasa ketika bisnis melayani pengguna dari berbagai kota atau negara karena pengguna yang berada lebih jauh dari server dapat mengalami latensi yang lebih tinggi.
2. Network Congestion
Network congestion terjadi ketika volume data yang melewati jaringan mendekati atau melebihi kapasitas yang tersedia. Dalam kondisi ini, data dapat mengalami antrean sebelum diteruskan ke tujuan.
Semakin padat jaringan, semakin lama data dapat diproses dan diteruskan sehingga latency meningkat dan akses layanan menjadi lebih lambat.
3. Routing dan Network Path
Data dapat melewati beberapa jaringan dan jalur sebelum mencapai server. Jumlah titik yang dilewati, kondisi setiap jaringan, dan efisiensi routing dapat memengaruhi waktu perjalanan data.
Routing yang kurang optimal dapat membuat data menempuh jalur yang lebih panjang dan meningkatkan latency, terutama pada koneksi antarwilayah.
4. Beban dan Waktu Pemrosesan Server
Waktu yang dibutuhkan server untuk memproses request juga dapat memengaruhi waktu respons layanan perusahaan.
Request yang kompleks atau server dengan beban tinggi membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan respons.
Kondisi ini dapat membuat pengguna mengalami jeda yang lebih panjang meskipun koneksi jaringannya berjalan dengan baik.
5. Ukuran dan Jumlah Resource
Website dengan banyak gambar, JavaScript, CSS, dan resource lainnya dapat membutuhkan lebih banyak request dan data untuk dimuat.
Setiap request membutuhkan proses komunikasi antara pengguna dan server, sementara file berukuran besar membutuhkan waktu lebih lama untuk ditransmisikan.
Akibatnya, halaman dapat terasa lebih lambat atau kurang responsif, terutama ketika banyak resource harus dimuat secara bersamaan.
Baca juga: Website Acceleration: Peran, Cara Kerja, dan Cara Mempercepat Website
Bagaimana Cara Mengukur Latency?
Latency dapat diukur untuk mengetahui seberapa cepat data berpindah antara pengguna dan server. Beberapa pendekatan yang umum digunakan adalah sebagai berikut:
1. Ukur Round-Trip Time (RTT)
Round-trip time (RTT) mengukur waktu yang dibutuhkan request untuk mencapai tujuan dan respons kembali ke sumber.
Ping, yaitu perintah untuk mengirim request ke server dan mengukur waktu responsnya, dapat digunakan untuk mengukur RTT dalam milidetik.
Network monitoring dan browser developer tools dapat menunjukkan waktu pada setiap tahap request, seperti DNS lookup, koneksi, dan respons server.
Semakin singkat waktu request dan respons oleh server, semakin rendah latency. Sebaliknya, jeda yang panjang dapat mengindikasikan keterlambatan pada jaringan atau server.
3. Ukur dari Berbagai Lokasi
Pengukuran dari beberapa lokasi membantu perusahaan membandingkan latency berdasarkan wilayah.
Pendekatan ini dapat menunjukkan apakah keterlambatan hanya terjadi pada lokasi tertentu atau memengaruhi pengguna secara lebih luas.
Bagaimana Cara Mengurangi Latency?
Pendekatan untuk mengurangi latency perlu disesuaikan dengan lokasi pengguna, jenis layanan, dan kondisi infrastruktur. Beberapa hal yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Gunakan CDN dan Edge Network
Untuk bisnis dengan pengguna yang tersebar di berbagai wilayah, CDN dan edge network dapat menyajikan resource dari lokasi yang lebih dekat dengan pengguna sehingga mengurangi jarak perjalanan data.
Misalnya, website e-commerce yang melayani pengguna di berbagai kota dapat menyimpan gambar produk dan file statis pada edge server sehingga resource dapat disajikan dari lokasi yang lebih dekat dengan pengguna.
Baca juga: Edge Computing: Cara Kerja dan Manfaatnya untuk Layanan Digital
2. Optimalkan Caching Sesuai Jenis Konten
Resource yang sering diminta dapat disimpan dalam cache agar tidak selalu perlu mengambil data dari origin server. Hal ini dapat mengurangi request ke server dan mempercepat penyajian konten.
Penerapannya perlu disesuaikan dengan jenis konten. Gambar produk, CSS, dan JavaScript yang jarang berubah dapat disimpan dalam cache lebih lama, sedangkan data dinamis seperti status pesanan atau saldo pengguna tetap diambil dari origin sesuai kebutuhan.
3. Optimalkan Ukuran Resource
Kompresi file, optimasi gambar, dan pengurangan resource yang tidak diperlukan dapat mengurangi jumlah data yang perlu dikirim kepada pengguna sehingga waktu pemuatan dapat dipersingkat.
Sebagai contoh, gambar beresolusi tinggi pada halaman website dapat dikompresi atau disesuaikan ukurannya sebelum dikirim kepada pengguna untuk mengurangi data yang harus ditransmisikan.
4. Optimalkan Network Routing
Jalur jaringan perlu diperhatikan, terutama untuk layanan yang melayani pengguna lintas wilayah. Routing yang lebih efisien dapat membantu mengurangi waktu perjalanan data menuju origin.
Pada layanan dengan pengguna internasional, pemilihan jalur jaringan yang lebih optimal dapat membantu request mencapai server dengan waktu perjalanan yang lebih singkat dibandingkan rute yang kurang efisien.
5. Sesuaikan Infrastruktur dengan Traffic dan Workload
Volume traffic dan beban kerja dapat memengaruhi waktu pemrosesan server. Optimasi aplikasi, database, dan kapasitas origin membantu menjaga performa ketika terjadi peningkatan akses.
Sebagai ilustrasi, aplikasi dengan lonjakan traffic saat periode promosi dapat meningkatkan kapasitas server atau mengoptimalkan database agar request tetap dapat diproses dengan cepat.
Baca juga: Cloud Service Provider: Cara Kerja, Jenis Layanan, dan Manfaatnya untuk Perusahaan
6. Pantau Performa dari Berbagai Lokasi
Perusahaan dapat mengukur latency dari beberapa lokasi pengguna untuk melihat perbedaan performa berdasarkan wilayah, waktu, atau jenis request.
Hasil pengukuran dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang mengalami latency lebih tinggi dan menentukan bagian jaringan atau infrastruktur yang perlu dioptimalkan.
Tingkatkan Performa Website dan Aplikasi dengan Tencent EdgeOne
Latency dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari jarak pengguna dan server, kondisi jaringan, routing, hingga beban infrastruktur.
Maka dari itu, pengurangan latency perlu dilakukan dengan menyesuaikan pendekatan terhadap karakteristik layanan, lokasi pengguna, dan kebutuhan content delivery.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, IDstar menyediakan Tencent EdgeOne yang menggabungkan edge acceleration dan content delivery melalui jaringan edge terdistribusi. Beberapa kapabilitas yang dapat mendukung optimasi performa meliputi:
- Caching: menyimpan resource di edge node untuk mengurangi request ke origin.
- Smart Acceleration: memilih jalur jaringan yang lebih optimal berdasarkan kondisi jaringan secara real-time, termasuk untuk dynamic content.
- Smart Compression: menggunakan Gzip atau Brotli untuk mengurangi ukuran resource yang dikirim kepada pengguna.
- HTTP/2 dan HTTP/3: mendukung protokol jaringan untuk meningkatkan efisiensi transmisi data.
Sebagai partner resmi Tencent Cloud, IDstar siap membantu perusahaan mengevaluasi kebutuhan content delivery dan network acceleration berdasarkan karakteristik layanan dan pengguna.
References:
CIO. “Edge computing lessons learned.” 2024.
Tencent EdgeOne. “Tencent EdgeOne – Overview”
TechRadar. “What is Latency?” 2025.



