Perusahaan yang mengadopsi cloud computing membutuhkan DevOps dan Cloud Engineer untuk mendukung pengembangan aplikasi serta pengelolaan infrastruktur IT.
Kedua role ini sering dianggap serupa, padahal DevOps berfokus pada proses pengembangan dan deployment aplikasi, sedangkan Cloud Engineer berfokus pada pengelolaan infrastruktur cloud.
Dengan memahami perbedaan DevOps dan Cloud Engineer, perusahaan dapat menentukan keahlian yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Artikel ini akan membahas perbedaan DevOps dan Cloud Engineer, peran masing-masing, serta kontribusinya dalam mendukung operasional IT perusahaan.
Apa Itu DevOps Engineer dan Cloud Engineer?
DevOps Engineer dan Cloud Engineer memiliki fokus kerja yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Berikut penjelasan mengenai peran masing-masing:
1. Apa Itu DevOps?
DevOps adalah pendekatan yang menggabungkan tim development dan operations untuk mempercepat proses pengembangan hingga deployment software. Fokus utamanya adalah kolaborasi, automation, dan continuous delivery.
Menurut Google (2020), tujuan DevOps adalah mempercepat time-to-market dengan mengintegrasikan proses, tools, dan tim secara end-to-end.
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat merilis produk lebih cepat dan mengurangi error operasional.
Baca juga: Apa Itu DevOps? Konsep, Manfaat, dan Cara Kerjanya
2. Apa Itu Cloud Engineer?
Cloud Engineer adalah profesional yang bertanggung jawab dalam merancang, membangun, dan mengelola infrastruktur berbasis cloud. Mereka memastikan sistem dapat berjalan stabil, scalable, dan efisien.
Peran ini menjadi krusial karena menurut data dari lebih dari Edge Delta (2024), 94% perusahaan global telah menggunakan cloud dalam operasionalnya. Artinya, cloud engineer menjadi fondasi utama dari sistem digital modern.
Baca juga: Apa Itu Cloud Engineer? Peran, Tugas, dan Skill yang Dibutuhkan
Apa Perbedaan DevOps dan Cloud Engineer?
Meskipun saling berkaitan, DevOps Engineer dan Cloud Engineer memiliki tanggung jawab yang berbeda. Berikut perbedaan keduanya:
| Aspek | DevOps Engineer | Cloud Engineer |
| Fokus Utama | Mengoptimalkan proses pengembangan dan deployment aplikasi. | Membangun dan mengelola infrastruktur berbasis cloud. |
| Area Kerja | CI/CD, automation, dan deployment pipeline. | Server, jaringan, penyimpanan, dan resource cloud. |
| Tools | Jenkins, GitLab CI/CD, Docker, dan Kubernetes. | AWS, Microsoft Azure, Google Cloud, dan Terraform. |
| Tujuan | Mempercepat software delivery dan meningkatkan konsistensi deployment. | Menjaga stabilitas, skalabilitas, dan efisiensi infrastruktur cloud. |
Berdasarkan tabel tersebut, DevOps berfokus pada efisiensi software delivery, sedangkan Cloud Engineer memastikan infrastruktur cloud mampu mendukung kebutuhan aplikasi dan operasional bisnis.
Meski fokusnya berbeda, keduanya dapat menggunakan tools yang sama dan berkolaborasi dalam pengembangan serta pengelolaan sistem IT.
Baca juga: Apa Itu Platform Engineering? Konsep, Cara Kerja, dan Manfaat
Apa Persamaan DevOps dan Cloud Engineer?
DevOps dan Cloud Engineer memiliki sejumlah kompetensi yang saling berkaitan. Berikut kesamaan utama keduanya:
1. Pemahaman Infrastruktur Cloud
Keduanya memahami layanan dan infrastruktur cloud, seperti AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud, untuk mendukung kebutuhan sistem IT perusahaan.
Cloud Engineer menggunakan kompetensi ini untuk membangun dan mengelola infrastruktur, sedangkan DevOps Engineer memanfaatkannya untuk mendukung proses deployment dan operasional aplikasi.
Baca juga: AI Infrastructure: Peran, Manfaat, dan Komponen Utamanya
2. Kemampuan Automation dan Scripting
Kedua peran tersebut mampu memanfaatkan automation dan scripting untuk mengurangi pekerjaan manual serta meningkatkan konsistensi proses IT.
Cloud Engineer menerapkannya dalam pengelolaan infrastruktur, sedangkan DevOps Engineer berfokus pada otomatisasi pengujian dan deployment aplikasi melalui CI/CD pipeline.
3. Pemahaman Infrastructure as Code dan Containerization
Keduanya memiliki pemahaman tentang teknologi seperti Terraform, Docker, dan Kubernetes untuk mendukung otomatisasi infrastruktur dan pengelolaan aplikasi.
Kesamaan kompetensi tersebut memungkinkan DevOps Engineer dan Cloud Engineer saling melengkapi dalam pengembangan dan pengelolaan sistem IT perusahaan.
Kapan Perusahaan Membutuhkan DevOps atau Cloud Engineer?
Kebutuhan DevOps Engineer dan Cloud Engineer bergantung pada prioritas perusahaan. Berikut tiga kondisi yang dapat menjadi pertimbangan:
1. Perusahaan Perlu Mempercepat Deployment Aplikasi
Perusahaan yang rutin mengembangkan atau memperbarui aplikasi membutuhkan proses deployment yang cepat dan konsisten.
DevOps Engineer dapat membantu mengotomatisasi proses pengujian dan deployment melalui CI/CD pipeline, sehingga pembaruan aplikasi dapat dilakukan lebih efisien dengan risiko kesalahan manual yang lebih rendah.
2. Infrastruktur Cloud Semakin Rumit
Seiring pertumbuhan bisnis, perusahaan dapat menghadapi peningkatan kebutuhan komputasi, penyimpanan, dan pengelolaan infrastruktur cloud.
Cloud Engineer dapat merancang, mengelola, dan mengoptimalkan resource cloud agar infrastruktur tetap stabil, scalable, dan sesuai kebutuhan operasional.
3. Kebutuhan Software Development dan Pengelolaan Cloud Meningkat
Seiring meningkatnya kebutuhan pengembangan aplikasi dan kompleksitas infrastruktur cloud, perusahaan dapat membutuhkan kedua kompetensi secara bersamaan.
DevOps Engineer mendukung otomatisasi software delivery, sedangkan Cloud Engineer memastikan infrastruktur mampu menjalankan aplikasi sesuai kebutuhan.
Kolaborasi keduanya membantu perusahaan menjaga efisiensi pengembangan dan keandalan sistem IT.
Baca juga: Cloud Service Provider: Cara Kerja, Jenis Layanan, dan Manfaatnya untuk Perusahaan
Optimalkan Operasional IT dengan Managed Services IDstar
DevOps Engineer membantu perusahaan mengoptimalkan pengembangan dan deployment aplikasi, sedangkan Cloud Engineer berperan dalam membangun serta mengelola infrastruktur cloud.
Selain membutuhkan kedua kompetensi tersebut, perusahaan juga perlu memastikan operasionalnya berjalan secara berkelanjutan.
Melalui IT Managed Services dari IDstar, perusahaan dapat dibantu untuk mengelola operasional IT secara terstruktur, mulai dari monitoring, pemeliharaan, dukungan teknis, hingga pengelolaan layanan berdasarkan SLA yang disepakati.
Berikut manfaat Managed Services bagi perusahaan:
- Kinerja Sistem Terjaga: Mendukung performa sistem melalui pemeliharaan rutin dan penanganan masalah teknis.
- Penanganan Gangguan Terstruktur: Membantu pencatatan, pelacakan, dan eskalasi insiden melalui sistem ticketing.
- Pemantauan Infrastruktur IT: Membantu mengidentifikasi potensi gangguan melalui monitoring dan pengelolaan notifikasi sistem.
- Kualitas Layanan Terukur: Mendukung evaluasi kinerja layanan melalui pemantauan SLA dan pelaporan berkala.
Didukung oleh tenaga ahli IT profesional, kemitraan resmi dengan Tencent Cloud, serta proses asesmen dan transisi layanan yang terencana, IDstar siap membantu perusahaan mengelola operasional IT sesuai kebutuhan bisnis dan sistem yang digunakan.
References:
EdgeDelta. “How Many Companies Use Cloud Computing in 2025?”
Google Cloud. “What is DevOps?” 2020.
Telkom University. “Perbedaan Profesi Cloud Engineer vs DevOps Engineer.” 2023.



