E-commerce Fraud: Bentuk, Risiko bagi Platform, dan Cara Mencegahnya

E-commerce Fraud: Bentuk, Risiko bagi Platform, dan Cara Mencegahnya

Program seperti flash sale, cashback, coupon, dan lucky draw menjadi bagian dari strategi e-commerce untuk menarik pengguna dan meningkatkan transaksi. Namun, mekanisme tersebut kerap dimanfaatkan untuk memperoleh benefit secara tidak sah.

Modusnya dapat berupa pembuatan akun secara massal, penggunaan bot untuk mengikuti promo, hingga transaksi fiktif untuk mendapatkan cashback. 

Bagi platform e-commerce, aktivitas tersebut dapat menimbulkan kerugian finansial sekaligus mengurangi efektivitas program yang dijalankan.

Maka dari itu, kecurangan pada platform e-commerce perlu ditangani pada berbagai titik interaksi pengguna, mulai dari tahap registrasi dan login akun hingga proses transaksi.

Apa Itu E-commerce Fraud?

E-commerce fraud adalah manipulasi atau penyalahgunaan platform tersebut untuk memperoleh keuntungan secara tidak sah, baik melalui akun, aktivitas pengguna, promo, maupun transaksi. 

J.P. Morgan (2026) juga mencatat bahwa penipuan e-commerce dapat mencakup transaksi tidak sah, account takeover, manipulasi pengembalian dana dan program loyalty, hingga penyalahgunaan identitas.

Selain itu, penipuan pada platform ini dapat melibatkan pencurian data pembayaran, penyalahgunaan promo, cashback, hingga flash sale. Sehingga, penyedia platform atau perusahaan perlu mengidentifikasi aktivitas berisiko secara lebih cermat.

Baca juga: Keamanan Data Pelanggan: Cara Menjaga, Jenis Ancaman, dan Solusinya

Apa Saja Bentuk Kecurangan pada E-commerce?

E-commerce fraud dapat terjadi pada berbagai titik interaksi pengguna, dengan beberapa bentuk sebagai berikut:

1. Penyalahgunaan Akun dan Transaksi Fiktif

Pelaku dapat membuat beberapa akun untuk memperoleh benefit promosi atau menggunakannya sebagai identitas pembeli dan penjual dalam suatu transaksi fiktif. Salah satu benefit yang dapat menjadi target adalah promo cashback.

Kasus ini terlihat dalam kasus yang dilaporkan Kumparan News (2021), ketika empat orang membuat akun sebagai penjual sekaligus pembeli dari toko mereka sendiri untuk melakukan transaksi fiktif.

Cashback yang diperoleh pelaku kemudian digunakan untuk membeli produk asli, menyebabkan kerugian lebih dari Rp400 juta bagi perusahaan e-commerce yang menjadi platform transaksi tersebut. 

Kasus ini menunjukkan bagaimana akun yang dibuat sendiri dapat digunakan untuk memanipulasi transaksi dan memperoleh benefit dari platform secara tidak sah.

2. Bot dan Automated Activity

Bot dapat menjalankan aktivitas secara otomatis dan berulang, terutama pada campaign dengan stok atau benefit terbatas. 

Kecurangan seperti ini kerap terjadi dalam campaign flash sale, ketika kecepatan menjadi faktor penting untuk mendapatkan produk atau harga promosi.

Berbeda dari pengguna yang harus merespons secara manual, bot dapat menjalankan instruksi yang telah ditentukan segera setelah flash sale dimulai sehingga proses partisipasi dapat berlangsung lebih cepat.

Kompas TV (2020) melaporkan salah satu kasus ini ketika pelaku menggunakan cloning app atau bot untuk mengotomatisasi partisipasi dalam flash sale. 

Setelah melakukan pengecekan, platform menindak tegas akun yang teridentifikasi menggunakan bot sebagai bentuk penanganan terhadap kecurangan tersebut.

3. Penyalahgunaan Promo dan Campaign

Pelaku dapat mengeksploitasi mekanisme coupon, flash sale, atau lucky draw untuk memperoleh diskon dan hadiah yang seharusnya memiliki batas atau ketentuan tertentu.

Modusnya dapat berupa memanfaatkan celah pada aturan promo, melakukan klaim berulang, atau mencari cara untuk memperoleh benefit di luar mekanisme yang ditetapkan. 

Apabila terjadi dalam skala besar, aktivitas tersebut dapat menghabiskan anggaran promosi dan mengurangi efektivitas program.

Baca juga: Fraud Detection System: Cara Kerja, Manfaat, dan Contoh Penerapannya

Apa Risiko Fraud bagi Platform e-commerce?

Ketika kecurangan memanfaatkan mekanisme promosi dan transaksi platform, beberapa aspek bisnis dapat ikut terdampak, sebagai berikut:

1. Kerugian Finansial

Cashback, diskon, hadiah, atau benefit lainnya dapat dimanfaatkan secara tidak sah oleh pelaku, sehingga biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk campaign tidak menghasilkan nilai bisnis yang diharapkan.

Kasus transaksi fiktif untuk memperoleh cashback, misalnya, menunjukkan bagaimana manipulasi mekanisme platform dapat menyebabkan kerugian finansial secara langsung.

2. Marketing Budget Tidak Efektif

Program promosi dirancang untuk memperoleh atau mempertahankan pengguna. Ketika benefit lebih banyak dinikmati oleh aktivitas kecurangan, budget pemasaran dapat terserap tanpa menghasilkan acquisition atau engagement yang diharapkan.

3. Benefit Tidak Tepat Sasaran

Pengguna yang beraktivitas secara normal dapat kehilangan kesempatan memperoleh kupon, hadiah, atau produk dengan harga promosi karena benefit telah dimanfaatkan melalui aktivitas yang melanggar ketentuan.

4. Beban Investigasi Meningkat

Semakin besar jumlah pengguna dan transaksi, semakin sulit bagi platform mengandalkan pemeriksaan manual untuk menemukan aktivitas penipuan.

Investigasi setelah fraud terjadi juga tidak selalu dapat mengembalikan seluruh biaya atau benefit yang telah digunakan.

Dengan demikian, platform perlu mengidentifikasi aktivitas berisiko sejak proses berlangsung agar dapat mengambil tindakan sebelum kecurangan menimbulkan kerugian.

Bagaimana Cara Mencegah E-commerce Fraud?

Pencegahan e-commerce fraud perlu dilakukan pada berbagai titik interaksi pengguna. Beberapa pendekatan yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:

1. Pantau Aktivitas Pengguna

Platform perlu memantau aktivitas saat pengguna melakukan registrasi, login, mengikuti campaign, hingga transaksi. 

Pemantauan pada beberapa tahap membantu mengidentifikasi pola seperti fake registration, automated activity, atau transaksi yang tidak wajar.

2. Analisis Risiko pada Campaign dan Transaksi

Aktivitas pada flash sale, lucky draw, dan transaksi dengan kupon dapat dianalisis untuk menemukan indikasi penyalahgunaan. 

Pendekatan ini membantu platform membedakan aktivitas legitimate dari pola yang berpotensi fraudulent.

3. Terapkan Real-Time Risk Assessment

Risk assessment dapat dilakukan ketika aktivitas berlangsung, sehingga platform tidak hanya mengandalkan pemeriksaan setelah campaign atau transaksi selesai. 

Sistem dapat menilai informasi seperti aktivitas pengguna, akun, perangkat, atau IP untuk menentukan tingkat risiko.

Solusi seperti risk engine dapat mendukung proses ini dengan melakukan risk assessment secara real-time pada berbagai skenario, termasuk registration, login, campaign, dan payment.

4. Tentukan Tindakan Berdasarkan Risiko

Hasil penilaian dapat digunakan untuk menentukan tindakan yang sesuai, seperti melanjutkan aktivitas, meminta verifikasi tambahan, melakukan review, atau membatasi aktivitas berisiko.

Pendekatan berbasis risiko membantu platform mengurangi fraud tanpa memberikan pembatasan yang sama kepada seluruh pengguna.

5. Integrasikan Risk Control di Berbagai Skenario

E-commerce fraud dapat terjadi pada lebih dari satu tahap, sehingga risk control perlu mencakup berbagai tahap interaksi pengguna. 

Integrasi antara registration, login, campaign, dan payment risk control dapat mengelola risiko secara lebih konsisten seiring meningkatnya volume pengguna dan transaksi.

Baca juga: Risk Control Engine: Cara Kerja, Kelebihan, dan Contoh Penerapannya untuk Bisnis

Cegah Fraud dalam E-commerce dengan Tencent Risk Control Engine (RCE)

Penipuan atau kecurangan dalam platform e-commerce dapat terjadi pada berbagai tahap, mulai dari registrasi dan login hingga campaign dan transaksi. 

Maka dari itu, penyedia platform membutuhkan risk engine yang mampu mengidentifikasi aktivitas berisiko secara real-time dan menentukan tindakan yang sesuai sebelum fraud menimbulkan kerugian.

IDstar menyediakan layanan Tencent Risk Control Engine (RCE) untuk membantu perusahaan menerapkan risk control secara real-time dengan menganalisis aktivitas pengguna dan memberikan hasil risk management dalam hitungan milidetik.

Dengan Tencent RCE, perusahaan dapat:

  • Mencegah fake dan batch registration untuk mengurangi pembuatan akun secara massal.
  • Mengidentifikasi automated dan batch login serta aktivitas login yang berisiko.
  • Mendeteksi campaign cheating pada coupon, flash sale, dan lucky draw.
  • Mengidentifikasi fake transaction dan aktivitas pembayaran yang berisiko.

IDstar sebagai authorized partner Tencent Cloud siap membantu perusahaan mengimplementasikan solusi risk control sesuai kebutuhan platform, mulai dari konsultasi hingga integrasi teknologi.

Referensi:

J.P. Morgan. “Your fraud-prevention posture is a business decision—and it should evolve like one.” 2026.

Kompas TV. “Video Viral Pemenang iPhone XR Curang Pakai Bot, Shopee Beri Klarifikasi.” 2020.

Kumparan News. “4 Pria Jual Beli Online Fiktif, Gasak Cashback e-Commerce Rp 400 Juta.” 2021.

Tencent Cloud. “Risk Control Engine – Overview.”

FAQ

1. Apa itu e-commerce fraud?

E-commerce fraud adalah manipulasi atau penyalahgunaan platform e-commerce untuk memperoleh keuntungan secara tidak sah melalui akun, promo, aktivitas pengguna, atau transaksi.

2. Apa saja contoh e-commerce fraud?

Contohnya meliputi penyalahgunaan akun, transaksi fiktif, penggunaan bot, penyalahgunaan cashback, coupon, flash sale, dan lucky draw.

3. Bagaimana cara mencegah e-commerce fraud?

Platform dapat memantau aktivitas pengguna, melakukan risk assessment secara real-time, menganalisis campaign dan transaksi, serta menentukan tindakan berdasarkan tingkat risiko.

4. Mengapa e-commerce fraud berbahaya bagi bisnis?

E-commerce fraud dapat menyebabkan kerugian finansial, membuat marketing budget tidak efektif, mengurangi benefit bagi pengguna legitimate, dan meningkatkan beban investigasi.

5. Bagaimana cara mendeteksi e-commerce fraud secara real-time?

Platform dapat menggunakan risk engine untuk menganalisis aktivitas pengguna, akun, perangkat, atau IP secara real-time dan menentukan apakah aktivitas perlu dilanjutkan, diverifikasi, ditinjau, atau dibatasi.

Share:
IDstar insights