Website dan aplikasi menjadi bagian penting dari operasional bisnis, sehingga gangguan layanan dapat memengaruhi aktivitas dan pengalaman pelanggan.
Salah satu gangguannya adalah Distributed Denial of Service (DDoS), yaitu serangan yang membanjiri layanan dengan traffic dalam jumlah besar.
Berdasarkan survey oleh PwC (2026), sebanyak 25% organisasi setuju bahwa DDoS attack masih menjadi salah satu risiko keamanan siber yang perlu diperhatikan hingga 2027.
Maka dari itu, perusahaan perlu memahami cara kerja DDoS dan menerapkan perlindungan yang tepat untuk menjaga ketersediaan layanan.
Apa Itu DDoS?
DDoS (Distributed Denial of Service) adalah serangan yang membanjiri server, website, atau aplikasi dengan traffic dalam jumlah besar.
Kondisi ini dapat membebani sumber daya seperti CPU, memory, bandwidth, dan kapasitas koneksi sehingga layanan tidak mampu melayani pengguna secara normal.
Akibatnya, layanan dapat mengalami latency, timeout, penurunan performa, hingga tidak dapat diakses, karena DDoS terutama menargetkan ketersediaan layanan, bukan pencurian data.
Bagaimana DDoS Menyerang?
DDoS bekerja dengan membebani resource yang digunakan untuk menjalankan layanan digital. Prosesnya dapat terjadi melalui beberapa tahap sebagai berikut:
1. Traffic Diarahkan ke Target
Serangan dimulai ketika pelaku mengarahkan traffic dalam jumlah besar ke target, seperti website, application server, API, atau network infrastructure.
2. Request Datang dari Banyak Sumber
Pada DDoS, traffic dapat berasal dari banyak perangkat atau sumber yang berbeda.
Kondisi ini membuat traffic berbahaya lebih sulit dibedakan dari aktivitas pengguna normal hanya berdasarkan jumlah request.
3. Resource Menjadi Terbebani
Traffic yang berlebihan dapat menghabiskan bandwidth atau membebani resource seperti koneksi, CPU, dan kapasitas aplikasi.
4. Request Pengguna Sah Ikut Terdampak
Ketika kapasitas layanan mulai terbebani, request dari pengguna yang sah dapat mengalami delay, timeout, atau gagal diproses.
5. Availability Layanan Menurun
Jika traffic berbahaya tidak ditangani, website atau aplikasi dapat menjadi sangat lambat hingga tidak dapat diakses.
Baca juga: Website Acceleration: Peran, Cara Kerja, dan Cara Mempercepat Website
Jenis-Jenis DDoS Attack
DDoS dapat menargetkan lapisan infrastruktur yang berbeda. Secara umum, serangan DDoS dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Volumetric Attack
Volumetric attack membanjiri target dengan traffic dalam volume besar untuk menghabiskan bandwidth atau kapasitas jaringan.
Serangan ini berfokus pada jumlah traffic yang diterima target sehingga kapasitas network dapat terbebani.
2. Protocol Attack
Protocol attack memanfaatkan cara protokol jaringan atau network infrastructure memproses traffic untuk menghabiskan resource yang tersedia.
Serangan ini dapat membebani server, firewall, atau perangkat jaringan sehingga kemampuan sistem dalam memproses request menurun.
3. Application Layer Attack
Application layer attack menargetkan aplikasi atau layanan tertentu dengan mengirimkan request dalam jumlah besar.
Jenis serangan ini dapat lebih sulit dikenali karena request yang dikirim dapat menyerupai aktivitas pengguna yang normal.
Akibatnya, perusahaan perlu menganalisis pola traffic dan perilaku request untuk membedakan aktivitas yang sah dari traffic berbahaya.
Apa Dampak DDoS Terhadap Bisnis?
DDoS tidak hanya menjadi persoalan teknis karena gangguan terhadap layanan digital dapat berdampak langsung pada operasional bisnis. Beberapa dampaknya adalah sebagai berikut:
1. Mengganggu Ketersediaan Layanan
Website, aplikasi, atau API yang menjadi bagian dari proses bisnis dapat mengalami penurunan performa atau tidak dapat diakses.
Bagi e-commerce, platform digital, dan layanan berbasis aplikasi, gangguan tersebut dapat langsung memengaruhi kemampuan pelanggan untuk mengakses layanan.
2. Menghambat Operasional Bisnis
Jika sistem digital digunakan untuk transaksi, layanan pelanggan, customer onboarding, atau proses internal, gangguan availability dapat menghambat workflow bisnis.
Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar potensi proses bisnis ikut terdampak.
3. Berpotensi Menyebabkan Kehilangan Pendapatan
Website dan aplikasi yang tidak dapat diakses dapat membuat pelanggan gagal melakukan transaksi atau menyelesaikan proses yang dibutuhkan.
Dampaknya dapat berupa transaksi yang tertunda, kehilangan peluang penjualan, hingga meningkatnya potensi pelanggan berpindah ke layanan lain.
Baca juga: Bagaimana Cara Mencegah Payment Fraud Pada Bisnis Digital?
4. Memengaruhi Customer Experience
Website yang lambat atau tidak dapat diakses dapat menciptakan friction dalam perjalanan pelanggan.
Bagi bisnis yang mengandalkan layanan digital sebagai channel utama, gangguan berulang dapat menurunkan kepercayaan terhadap kualitas layanan.
5. Meningkatkan Beban Tim IT
Ketika terjadi serangan, tim IT dan keamanan perlu melakukan investigasi, mengidentifikasi sumber gangguan, dan memulihkan availability layanan.
Tanpa mekanisme perlindungan yang memadai, proses penanganan dapat membutuhkan lebih banyak waktu dan resource internal.
Bagaimana Mengetahui Website Mengalami DDoS?
Traffic dapat meningkat karena campaign, promosi, product launch, atau konten yang sedang viral. Namun, beberapa kondisi berikut dapat menjadi indikasi yang perlu diwaspadai:
1. Traffic Meningkat Secara Tidak Wajar
Lonjakan traffic terjadi secara tiba-tiba dan jauh di atas pola normal tanpa adanya aktivitas bisnis yang dapat menjelaskannya.
2. Website atau Aplikasi Menjadi Lambat
Response time meningkat secara signifikan meskipun tidak ada perubahan besar pada aplikasi atau aktivitas pengguna normal.
3. Banyak Request Mengalami Kegagalan
Pengguna mulai mengalami timeout, connection error, atau kegagalan saat mengakses halaman dan fitur tertentu.
4. Penggunaan Resource Meningkat Drastis
Bandwidth, CPU, jumlah koneksi, atau resource lainnya dapat menunjukkan penggunaan yang jauh lebih tinggi dari kondisi normal.
Baca juga: Edge Computing: Cara Kerja dan Manfaatnya untuk Layanan Digital
5. Gangguan Terjadi pada Beberapa Layanan
Jika beberapa endpoint, aplikasi, atau layanan mengalami gangguan secara bersamaan, perusahaan perlu memeriksa apakah terdapat pola traffic yang tidak normal.
Indikator tersebut belum cukup untuk memastikan terjadinya DDoS. Perusahaan tetap perlu melakukan analisis traffic untuk menentukan sumber dan karakteristik gangguan.
Bagaimana Cara Mencegah DDoS?
Cara mencegah DDoS dapat dilakukan dengan memantau, menyaring, dan memitigasi traffic berisiko. Beberapa langkah yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Pantau Traffic Secara Real-Time
Monitoring traffic membantu perusahaan memahami pola penggunaan normal dan mengidentifikasi lonjakan atau aktivitas yang tidak biasa.
Beberapa indikator yang dapat dipantau meliputi traffic volume, request rate, response time, dan distribusi traffic.
2. Filter Traffic Berisiko
Traffic yang memiliki karakteristik mencurigakan dapat difilter sebelum mencapai origin server.
Filtering membantu mengurangi jumlah request berbahaya yang harus diproses oleh infrastruktur utama.
3. Terapkan Rate Limiting
Rate limiting membatasi jumlah request yang dapat diterima dari sumber tertentu dalam periode waktu tertentu.
Cara ini dapat membantu mencegah satu sumber atau kelompok sumber mengonsumsi resource secara berlebihan.
4. Gunakan CDN dan Distributed Infrastructure
CDN mendistribusikan content delivery melalui jaringan server yang tersebar di berbagai lokasi.
Dengan mendistribusikan traffic, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada satu origin server dan membantu menjaga availability ketika volume traffic meningkat.
5. Gunakan DDoS Protection
DDoS protection dapat membantu mendeteksi, memfilter, dan memitigasi traffic berbahaya sebelum mencapai website atau aplikasi.
Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menambahkan lapisan perlindungan khusus untuk menghadapi traffic yang tidak normal.
6. Siapkan Infrastruktur yang Scalable
Infrastruktur yang dapat menyesuaikan resource berdasarkan kebutuhan membantu perusahaan menangani perubahan workload dan traffic dengan lebih fleksibel.
Namun, skalabilitas sebaiknya tetap dikombinasikan dengan traffic filtering dan DDoS mitigation karena menambah kapasitas saja tidak selalu cukup untuk menghadapi serangan.
Bagaimana DDoS Protection Bekerja?
DDoS protection bekerja melalui beberapa tahap untuk mendeteksi dan menangani traffic berisiko, sebagai berikut:
1. Traffic Masuk melalui Protection Layer
Traffic pengguna diarahkan melalui CDN atau edge network sebelum mencapai origin server. Lapisan ini menjadi titik awal untuk menangani traffic yang masuk.
2. Traffic Dipantau dan Dianalisis
Fitur traffic monitoring menganalisis pola seperti request rate, volume, dan lonjakan traffic untuk mengidentifikasi aktivitas yang tidak normal.
3. Traffic Berisiko Difilter dan Dimitigasi
Traffic filtering dan DDoS mitigation membantu memblokir atau menangani traffic yang terindikasi berbahaya.
Rate limiting juga dapat membatasi jumlah request agar resource tidak digunakan secara berlebihan.
4. Traffic Valid Diteruskan ke Origin
Setelah traffic berisiko ditangani, request yang valid diteruskan ke website atau aplikasi melalui protection layer sehingga pengguna tetap dapat mengakses layanan.
5. Performa dan Keamanan Dipantau
Komponen monitoring dan visibility membantu perusahaan melihat kondisi traffic, aktivitas keamanan, dan performa layanan untuk mengevaluasi efektivitas perlindungan.
Solusi Perlindungan DDoS untuk Website dan Aplikasi
DDoS dapat mengganggu availability website dan aplikasi dengan membebani infrastruktur melalui traffic yang tidak wajar.
Perusahaan perlu menggabungkan monitoring, traffic filtering, distributed infrastructure, dan DDoS protection untuk menjaga layanan tetap tersedia bagi pengguna yang sah.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, IDstar menyediakan layanan Tencent EdgeOne yang mampu melindungi serta meningkatkan performa website dan aplikasi.
Beberapa kemampuan Tencent EdgeOne meliputi:
- DDoS Protection: membantu mendeteksi dan memitigasi traffic berbahaya.
- CDN & Edge Network: mendistribusikan content delivery melalui jaringan edge untuk membantu mengurangi beban origin.
- Smart Acceleration: membantu mengoptimalkan jalur network dan content delivery.
- Traffic Management: membantu mengelola traffic dan menjaga stabilitas layanan.
- Edge Computing: memungkinkan proses tertentu dilakukan lebih dekat dengan pengguna.
IDstar sebagai Authorized Partner Tencent Cloud, siap membantu perusahaan mengevaluasi kebutuhan, memilih solusi, hingga mendukung integrasi dan implementasi perlindungan secara end-to-end yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
References:
Forbes. “Why DDoS Resilience Requires A Strong Incident Response Strategy.” 2025.
PwC. “Digital Trust Insights Survey 2027.” 2026.
Tencent EdgeOne. “DDoS Protection Overview.”





