IDStar, IT Consulting Jakarta – Human error adalah penyebab utama banyak kegagalan operasional, dari cacat produk hingga downtime. Ketika salah satu pekerjaan rutin gagal, dampaknya bisa meluas ke biaya, reputasi, dan efisiensi bisnis Anda.
Bagi Anda sebagai pemimpin perusahaan atau pengambil keputusan di bidang IT/operasional, memahami human error secara mendalam bukan sebatas teori, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga kualitas, produktivitas, dan keberlanjutan bisnis.
Mari kita telusuri bersama definisi, jenis, dampak nyata, serta langkah konkret untuk meminimalkan risiko tersebut, dengan data terkini dan solusi praktis.
Apa Itu Human Error?
Menurut definisi umum, human error adalah kesalahan yang dilakukan oleh manusia, baik dalam tindakan, keputusan, maupun dalam proses berpikir. Tidak hanya pekerja baru, bahkan profesional sekalipun bisa melakukan kesalahan.
Dalam literatur klasik, misalnya kategori oleh Jens Rasmussen, human error dibagi ke dalam tiga tipe berdasarkan:
-
Skill-based error: kesalahan karena keterampilan belum matang atau kurang teliti.
-
Rule-based error: kesalahan saat mengikuti prosedur yang salah atau keliru interpretasi prosedur.
-
Knowledge-based error: kesalahan dalam situasi baru akibat kurangnya pengetahuan atau pengalaman.
Itu sebabnya, human error bukan soal “siapa” yang melakukan, melainkan “bagaimana sistem, proses, dan lingkungan kerja dirancang”.
Baca juga: Cara Mengatasi Human Error dalam Bisnis Paling Ampuh!
Dampak Nyata Human Error, Bukan Sekadar Teori
Sebelum membahas mitigasi, penting melihat dulu seberapa besar dampak human error terhadap kualitas, biaya, dan operasional.
1. Cacat Kualitas
Studi pada industri manufaktur menunjukkan bahwa 70–90% cacat mutu dalam proses produksi disebabkan oleh human error (Wijayanti, 2025).
Dalam satu penelitian perakitan manual produk elektronik, human error menyumbang 17,69% dari total defect dari 97 cacat teridentifikasi (Saptari, 2014).
Angka-angka ini menunjukkan bahwa human error bukan sekadar risiko kecil, melainkan penyumbang signifikan masalah kualitas yang bisa mempengaruhi reputasi dan profitabilitas.
2. Downtime Tak Terencana & Gangguan Operasional
Dalam sektor manufaktur, sekitar 23% unplanned downtime terjadi akibat kesalahan manusia, artinya hampir seperempat waktu produksi bisa hilang karena human error (Engineering, 2017).
Downtime ini bukan hanya mengganggu jadwal produksi, tapi juga berpotensi menimbulkan backlog, re-scheduling, dan biaya tambahan yang sulit diprediksi.
Dengan demikian, human error tidak hanya mempengaruhi kualitas produk, tapi juga stabilitas operasional perusahaan secara keseluruhan.
3. Biaya Tambahan dari Perbaikan, Scrap dan Rework
Human error dalam proses produksi dan maintenance dapat memicu kebutuhan re-work, scrap, atau perbaikan, yang secara langsung menambah biaya operasional.
Beberapa analisis menunjukkan bahwa biaya akibat human error bisa mencapai 5–30% dari total pengeluaran manufaktur (Plutomen, 2024).
Ketika cacat dan kesalahan terjadi secara berkala, kerugian ini bersifat kumulatif dan berisiko menggerus margin keuntungan serta efisiensi perusahaan.
Oleh karena itu, memahami dan mengatasi human error bukan hanya soal menjaga kualitas, melainkan soal mengamankan kesehatan finansial dan kelangsungan operasional perusahaan.
Dengan data seperti ini, risiko human error jelas bukan sekadar ancaman hipotetis, melainkan ancaman konkret terhadap biaya, kualitas, dan daya saing perusahaan.
Baca juga: Memahami Perbedaan Human Faktor dan Human Error, Lengkap!
Mengapa Human Error Sering Terjadi?
Kejadian human error sering kali bukan karena kecerobohan individu, melainkan akibat desain sistem dan kondisi kerja. Beberapa faktor utama:
-
Tugas berulang dengan beban mental atau fisik tinggi yang meningkatkan kemungkinan slip / lapse.
-
Prosedur yang kompleks atau kurang jelas yang meningkatkan risiko mistake atau misinterpretasi.
-
Tekanan waktu atau target tinggi yang memicu keputusan cepat dan kompromi kualitas, terutama dalam kondisi deadline.
-
Lingkungan kerja tidak mendukung (ergonomi buruk, distractor, beban kerja tinggi) yang memperbesar kemungkinan kesalahan.
-
Kurangnya pelatihan, dokumentasi, atau sistem kontrol yang memadai yang membuat proses sensitif human error.
Penelitian reliability di sektor manufaktur menunjukkan bahwa kombinasi faktor seperti desain tugas buruk + kondisi kerja tidak mendukung + prosedur lemah membuat human error hampir tak terhindarkan (Torres, 2021).
Contoh Industri yang Sering Mengalami Human Error
Sekarang Anda akan mencari tahu beberapa contoh industri yang sering mengalami human error yang kami rangkum sebagai berikut.
1. Industri Manufaktur
Di manufaktur, human error sering muncul pada entri data produksi, pencatatan stok, atau kontrol kualitas. Sebagai contoh, human error terjadi ketika salah input jumlah bahan baku, atau keliru memasukkan spesifikasi komponen.
2. Bank & Fintech
Di sektor keuangan, human error bisa terjadi saat teller atau staf melakukan input transaksi, perhitungan, alias verifikasi identitas. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal, mulai dari salah transfer, pencatatan ganda, atau melanggar aturan compliance.
3. Retail / E-commerce
Dalam retail atau e-commerce, human error sering muncul di entri data pesanan, input harga, stok, atau pengolahan pesanan. Misalnya salah input stok, salah harga, atau kesalahan picking & packing. Kesalahan ini bisa menyebabkan pelanggan kecewa, retur, atau kerugian margin.
4. Operasional Back-Office & Compliance
Banyak human error terjadi di bagian back-office: data entry, dokumentasi, pelaporan, compliance. Kesalahan seperti salah kirim email, keliru mengunggah file sensitif, atau kelalaian prosedur menjadi sumber kebocoran data, penundaan proses, atau pelanggaran regulasi.
Cara Mencegah Human Error
Setelah Anda mengetahui bahwa di berbagai industri sangat sering terjadi human error, terdapat beberapa strategi konkret, bisa langsung dipertimbangkan oleh manajer dan decision-maker untuk mengurangi dampak human error dalam operasi bisnis.
1. Analisis Proses & Identifikasi Potensi Error
Lakukan audit terhadap seluruh workflow dan petakan langkah mana yang paling rawan human error. Analisis seperti ini membantu perusahaan melihat titik kritis yang biasanya tersembunyi di aktivitas harian, terutama pekerjaan repetitif atau penuh variabel.
Dengan memahami pola kesalahan, Anda dapat melakukan redesign proses sehingga kompleksitas berkurang dan risiko error menurun secara signifikan.
2. Pelatihan Rutin & Standarisasi Prosedur
Pelatihan berkala membantu seluruh tim menguasai SOP dan best practices secara konsisten, terutama saat proses bisnis mengalami perubahan.
Standarisasi prosedur memastikan seluruh anggota tim bekerja dengan cara yang seragam, sehingga peluang kesalahan karena interpretasi berbeda bisa ditekan.
Dengan dokumentasi yang jelas dan mudah diakses, karyawan dapat merujuk kembali proses yang benar tanpa harus menebak atau mengandalkan ingatan semata.
Baca juga: Digitalisasi Dokumen Pabrik: Proses, Manfaat, dan Cara Memulainya
3. Automasi Tugas Repetitif dengan IT Outsourcing & Agentic AI
Pekerjaan repetitif seperti input data, validasi formulir, atau pengecekan rutin adalah jenis tugas paling rentan human error dan paling ideal untuk dialihkan ke automasi.
Dengan solusi RPA atau agentic AI, perusahaan dapat menurunkan kesalahan ketik, salah input, dan step yang terlewat, sekaligus meningkatkan akurasi proses hingga mendekati 100%.
Bagi perusahaan yang ingin mempercepat transformasi digital, model IT outsourcing dari talenta berpengalaman juga dapat mempercepat implementasi tanpa beban rekrutmen dan training internal.
4. Implementasi Sistem Pengawasan & Review Berkala
Sistem QC, audit internal, dan mekanisme error-reporting membantu perusahaan menangkap kesalahan lebih cepat sebelum merembet ke area lain.
Setelah error tercatat, langkah penting berikutnya adalah melakukan root-cause analysis untuk memastikan masalah tidak terulang.
Dengan memanfaatkan data historis, perusahaan dapat membaca pola kesalahan, menetapkan prioritas perbaikan, dan meningkatkan stabilitas operasional secara berkelanjutan.
Baca juga: Otomatisasi Inventory Planning, Solusi No Human Error
5. Ciptakan Budaya Kesadaran & Lingkungan Kerja Sehat
Lingkungan kerja yang mendukung, mulai dari ergonomi, manajemen beban kerja, hingga komunikasi, berperan besar dalam menurunkan risiko human error.
Ketika karyawan merasa aman untuk melaporkan kesalahan tanpa takut disalahkan, perusahaan lebih mudah mengidentifikasi masalah dan memperbaikinya sejak dini.
Budaya ini bukan hanya meningkatkan keselamatan kerja, tetapi juga memperkuat keterlibatan dan rasa tanggung jawab seluruh tim terhadap kualitas.
Kesimpulan & Rekomendasi untuk Anda
Human error bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Data menunjukkan bahwa mayoritas defect, downtime, dan biaya produksi ekstra di banyak perusahaan berasal dari kesalahan manusia, dan biaya ini bisa signifikan.
Namun, human error bukan nasib, melainkan risiko yang bisa dikendalikan. Dengan strategi tepat seperti analisis proses, pelatihan, automasi, pengawasan, dan budaya kerja sehat, perusahaan Anda bisa memangkas kerugian, meningkatkan produktivitas, dan menjaga kualitas jangka panjang.
Sebagai mitra IT outsourcing, IDstar siap membantu Anda merancang ulang proses, menerapkan solusi automasi dengan agentic AI, dan membangun sistem yang tangguh terhadap human error.
Mari bersama kurangi risiko dan fokus ke pertumbuhan bisnis. Digital Transformation? #IDstarinAja
Referensi Kredibel:
- Engineering.com. (2022). Human Error Is Worse in Manufacturing Compared to Other Sectors. https://www.engineering.com/human-error-is-worse-in-manufacturing-compared-to-other-sectors
- Pluto-Men.com. (2024). “Human Error: A Persistent Challenge in Manufacturing Operations”. https://pluto-men.com/human-error-persistent-challenge-manufacturing-operation
- Saptari, A., Leau, J. X., Ng, P. K., & Mohamad, E. (2014). 2309 Human error and production rate correlation in assembly process of electronics goods. Sekkei Kougaku, Shisutemu Bumon Kouenkai Kouen Rombunshuu/Sekkei Kogaku, Shisutemu Bumon Koenkai Koen Ronbunshu, 2014.24(0). https://doi.org/10.1299/jsmedsd.2014.24._2309-1_
- Torres, Y., Nadeau, S., & Landau, K. (2021). Classification and Quantification of Human Error in Manufacturing: A Case Study in Complex Manual Assembly. Applied Sciences, 11(2), 749. https://doi.org/10.3390/app11020749
- Wijayanti, W., Nasution, H., & Huda, L. N. (2025). The Role of Human Error in Production Process Failures: A Systematic Literature Review. Jurnal Sistem Teknik Industri, 27(3), 137–144. https://talenta.usu.ac.id/jsti/article/download/18202/9198



Chat Us