Rekrut sendiri vs pakai headhunter, mana lebih efisien? Pertanyaan ini hampir selalu muncul ketika perusahaan mulai kesulitan mengisi posisi IT atau digital yang krusial.
Di atas kertas, rekrut sendiri terlihat lebih hemat. Tidak ada fee vendor, semua proses dilakukan internal. Namun dalam praktiknya, efisiensi rekrutmen tidak hanya diukur dari biaya langsung, tetapi dari waktu, risiko, dan dampaknya ke bisnis.
Artikel ini membedah kedua pendekatan secara objektif, agar perusahaan bisa memilih strategi yang paling masuk akal untuk kebutuhannya.
Rekrut Sendiri: Terlihat Murah, Tapi Tidak Selalu Efisien
Banyak perusahaan memilih rekrut sendiri dengan alasan kontrol dan biaya. Prosesnya biasanya dimulai dari:
-
memasang lowongan di job portal
-
menerima CV masuk
-
screening internal
-
interview bertahap
Untuk role non-teknis atau volume besar, pendekatan ini masih cukup relevan. Namun untuk role IT, tantangannya berbeda.
Masalah yang sering muncul saat rekrut sendiri:
-
CV banyak, tapi yang relevan sedikit
-
HR kesulitan menilai kualitas teknis
-
User harus meluangkan waktu ekstra untuk screening
-
Proses panjang membuat kandidat terbaik keburu diambil perusahaan lain
Yang sering luput dihitung adalah biaya tersembunyi (hidden cost): waktu tim yang terbuang, proyek yang tertunda, dan opportunity cost karena posisi kosong terlalu lama.
Baca juga: Kenapa Hiring IT Selalu Gagal di Banyak Perusahaan?
Pakai Headhunter: Lebih Mahal di Awal, Tapi Lebih Terukur
Menggunakan headhunter sering diasosiasikan dengan biaya besar. Memang, di pasar Indonesia, banyak headhunter menerapkan fee 20–30% dari gaji tahunan kandidat. Untuk role IT dengan gaji tinggi, angka ini terasa berat.
Namun pendekatan headhunter yang tepat sebenarnya menawarkan efisiensi di area lain:
-
proses lebih cepat
-
shortlist lebih relevan
-
beban screening user berkurang
-
risiko salah rekrut lebih rendah
Dengan kata lain, perusahaan membayar untuk mengurangi ketidakpastian, bukan sekadar untuk mencari kandidat.
Perbedaan Utama Ada di Cara Menyaring Kandidat
Rekrut sendiri umumnya bergantung pada CV dan interview internal. Ini membuat kualitas kandidat sangat bergantung pada:
-
kemampuan HR membaca CV teknis
-
waktu user untuk interview
-
konsistensi proses seleksi
Sementara headhunter yang fokus di IT biasanya sudah:
-
memetakan talent berdasarkan skill dan pengalaman
-
memvalidasi kesiapan kerja kandidat
-
memahami konteks teknis role yang dicari
Hasilnya bukan lebih banyak kandidat, tetapi lebih sedikit kandidat yang lebih tepat.
Efisiensi Bukan Hanya Soal Biaya, Tapi Soal Risiko!
Kesalahan terbesar dalam membandingkan rekrut sendiri vs pakai headhunter adalah melihat efisiensi hanya dari angka.
Padahal yang sering paling mahal adalah:
-
salah rekrut
-
kandidat resign di awal
-
tim harus mengulang proses dari nol
Untuk startup dan perusahaan yang sedang tumbuh, satu kesalahan hiring IT bisa berdampak ke:
-
keterlambatan produk
-
technical debt
-
tekanan berlebih ke tim existing
Dalam konteks ini, pendekatan yang paling efisien adalah yang paling kecil risikonya, bukan yang paling murah di awal.
Kapan Rekrut Sendiri Masih Masuk Akal?
Rekrut sendiri tetap relevan jika:
-
posisi tidak terlalu teknis
-
kandidat tersedia banyak di pasar
-
perusahaan punya waktu dan resource internal yang cukup
-
risiko salah rekrut masih bisa ditoleransi
Namun ketika kebutuhan mulai spesifik dan berdampak langsung ke bisnis, pendekatan ini sering mulai terasa tidak efektif.
Kapan Pakai Headhunter Jadi Lebih Efisien?
Menggunakan headhunter biasanya lebih masuk akal ketika:
-
role IT bersifat krusial dan teknis
-
butuh kandidat siap kerja, bukan belajar dari nol
-
waktu hiring terbatas
-
biaya salah rekrut lebih mahal daripada fee vendor
Di titik ini, efisiensi diukur dari hasil, bukan proses.
Baca juga: Cari Tahu Perbedaan Headhunter dan Recruiter untuk Hindari Risiko Salah Hiring
Bagaimana IDstar Membuat Headhunter Lebih Efisien untuk IT Hiring?
IDstar hadir untuk menjembatani dilema ini. Dengan pendekatan IT headhunting spesialis, IDstar membantu perusahaan mendapatkan efisiensi tanpa harus membayar mahal seperti model konvensional.
Beberapa hal yang membuatnya berbeda:
-
1.200+ talent IT dan digital yang sudah terkurasi dan siap kerja
-
Pemahaman mendalam tentang role dan kebutuhan teknis
-
Proses screening yang mengurangi beban user
-
Fee tetap Rp7,5 juta per kandidat, transparan dan terukur
Pendekatan ini membuat perusahaan tidak perlu memilih antara “murah tapi berisiko” atau “aman tapi mahal”.
Baca juga: Berapa Berapa Biaya Jasa Headhunter di Indonesia?
Jadi, Efisiensi Itu Soal Dampak, Bukan Sekadar Biaya
Rekrut sendiri dan pakai headhunter sama-sama punya tempatnya. Namun untuk hiring IT yang berdampak langsung ke performa bisnis, efisiensi sejati datang dari proses yang:
-
cepat
-
tepat
-
dan minim risiko
Jika tujuan Anda bukan sekadar mengisi posisi, tetapi membangun tim teknologi yang kuat, maka pendekatan yang lebih terstruktur dan terkurasi akan selalu lebih efisien dalam jangka panjang.
Digital Transformation? #IDstarinAja



Chat Us