Cara agar bisnis tetap survive di kondisi ekonomi 2026 bukan soal “jualan lebih keras” saja, tetapi soal membangun bisnis yang tahan guncangan: cashflow rapi, proses efisien, keputusan cepat, dan siap beradaptasi.
Di level global, proyeksi pertumbuhan 2026 masih ada, tetapi tetap dibayangi ketidakpastian kebijakan dan tensi perdagangan.
International Monetary Fund memproyeksikan pertumbuhan global sekitar 3,3% pada 2026. Sementara World Bank memproyeksikan 2,6% pada 2026.
Artinya, peluang tetap ada. Tapi yang menang biasanya bukan yang paling besar, melainkan yang paling rapi eksekusi dan paling cepat mengurangi kebocoran.
Berikut langkah praktis yang relevan untuk bisnis Anda.
12 cara agar bisnis tetap survive di ekonomi 2026
Bagi Anda yang bisnisnya lagi seret, Anda tidak sendirian, karena hampir semua bisnis juga mengalami hal serupa di era seakrang. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa Anda lakukan.
1) Kunci dulu cashflow, jangan mulai dari omzet
Kalau kas seret, bisnis bisa berhenti meski masih “untung di laporan”. Mulai dari proyeksi kas sederhana 8–13 minggu: uang masuk, uang keluar, dan tanggal jatuh tempo. Fokus anda harus bisa menunda pengeluaran non-wajib, mempercepat penagihan, dan mencegah stok atau operasional “makan kas”.
2) Pangkas kebocoran paling besar, bukan yang paling kelihatan
Cari 3 kebocoran yang paling sering terjadi:
-
follow up lead telat
-
retur, komplain, atau delivery lambat
-
revisi kerja berulang karena SOP tidak jelas
Perbaiki yang paling sering mengulang, karena efeknya langsung terasa ke biaya dan kecepatan.
3) Fokus pada produk atau layanan yang paling menguntungkan
Saat ekonomi ketat, “semua dijual” sering bikin operasional makin kompleks, margin makin tipis. Pilih 20% produk yang menyumbang profit terbesar. Pastikan stok, tim, dan promosi lebih berat di sana.
4) Jadikan retensi dari pelanggan yang sudah ada
Pelanggan lama adalah penyangga saat demand goyang. Terapkan 3 hal sederhana:
-
reminder reorder atau repeat
-
program win-back untuk pelanggan pasif
-
SOP after-sales yang konsisten
Tujuannya: repeat naik dan biaya akuisisi tidak membengkak.
Baca juga: Ide Bisnis Digital Menjanjikan 2026
5) Percepat respons ke calon pelanggan
Di kondisi kompetitif, siapa cepat dia dapat. Tetapkan standar:
-
lead masuk harus direspons maksimal 10–30 menit
-
follow up H+1, H+3, H+7
Buat 3 template pesan: respon cepat, penawaran ringkas, reminder. Konsistensi follow up sering menaikkan closing tanpa biaya iklan tambahan.
6) Rapikan penawaran: buat paket, bukan daftar panjang
Banyak calon pelanggan gagal beli karena bingung memilih. Buat 3 paket jelas: Basic, Standard, Premium. Cantumkan apa yang didapat dan siapa cocoknya. Ini membantu menaikkan conversion dan sering ikut menaikkan nilai transaksi rata-rata.
7) Lindungi margin dengan aturan diskon yang tegas
Diskon boleh, tetapi harus ada trade-off: bayar lebih cepat, kontrak lebih panjang, atau scope lebih jelas. Tanpa aturan, diskon jadi kebiasaan dan margin “bocor pelan-pelan”.
8) Automasi proses yang paling sering bikin uang telat masuk
Ini bagian yang biasanya paling cepat terasa dampaknya. Mulai dari proses berulang yang menghambat cash-in, misalnya:
-
pembuatan invoice
-
pengingat pembayaran
-
rekonsiliasi data sederhana
-
update status pesanan ke pelanggan
Kalau proses ini otomatis, tim tidak habis energi untuk kerja administrasi dan uang masuk lebih cepat.
Baca juga: 10 Cara Meningkatkan Penjualan Bisnis di Era Digital
9) Buat keputusan mingguan dengan dashboard minimal
Jangan menunggu akhir bulan baru sadar performa turun. Dashboard mingguan minimal:
-
lead masuk
-
follow up done
-
transaksi jadi dan gagal
-
cash collected
-
3 hambatan terbesar minggu ini
Dengan ini, keputusan jadi cepat dan tidak reaktif.
10) Perkuat efisiensi lewat automation dan AI secara bertahap
Bukan berarti semuanya harus pakai AI. Mulai dari yang paling relevan:
-
automation untuk tugas berulang
-
AI untuk merangkum, klasifikasi data, atau bantu analisis sederhana
McKinsey menyebut GenAI berpotensi mendorong pertumbuhan produktivitas tenaga kerja, bergantung pada adopsi dan bagaimana waktu kerja dialihkan ke aktivitas bernilai. Poinnya: AI dan automation itu bukan tren, tetapi alat untuk menang di efisiensi.
Baca juga: 10 Tantangan Bisnis di Era Digital Serta Solusinya
11) Jaga stabilitas harga dan daya beli sebagai konteks operasional
Di Indonesia, Bank Indonesia menargetkan inflasi 2026 pada kisaran 2,5% ± 1%. Ini penting untuk Anda sebagai patokan: pricing, biaya bahan, dan strategi promo perlu lebih disiplin, bukan sekadar ikut-ikutan pasar.
12) Siapkan skenario bisnis: base, best, worst
Survive di 2026 bukan soal bisa memprediksi, tetapi siap merespons. Buat 3 skenario sederhana:
-
Base: penjualan stabil
-
Best: permintaan naik
-
Worst: permintaan turun
Lalu tentukan tindakan pemicu: kapan tahan belanja, kapan tambah stok, kapan tambah tim, kapan fokus retensi.
Kenapa harus mulai automation dan digital transformation sekarang
Kalau 2026 menuntut bisnis lebih efisien dan adaptif, maka automation adalah langkah cepat untuk menutup kebocoran proses, sedangkan digital transformation membuat perbaikan itu nyambung dari ujung ke ujung: data, proses, sistem, dan pengambilan keputusan.
Secara global, narasi besar dari proyeksi ekonomi juga menekankan peran investasi teknologi dan adaptabilitas dalam menjaga ketahanan pertumbuhan.
IDstar siap jadi partner digital Anda
Jika Anda ingin eksekusi lebih cepat dan terukur, IDstar siap membantu sebagai partner digital Anda melalui layanan:
-
Digital Transformation Consultant untuk memetakan bottleneck dan menyusun roadmap yang realistis
-
AI Development untuk insight, analitik, dan solusi AI yang relevan dengan kebutuhan bisnis
-
Agentic Automation untuk otomasi end-to-end yang benar-benar mengurangi kerja manual
-
Layanan pendukung lainnya untuk mempercepat eksekusi dan efisiensi operasional
Digital Transformation? #IDstarinAja



Chat Us