agent
×

Fake Website Detection: Ciri-ciri, Jenis, dan Cara Mendeteksinya

Home / All Articles / Cybersecurity / Fake Website Detection: Ciri-ciri, Jenis, dan Cara Mendeteksinya
Fake Website Detection: Ciri-ciri, Jenis, dan Cara Mendeteksinya

Pelanggan semakin bergantung pada website untuk mencari informasi, melakukan transaksi, atau mengakses layanan perusahaan. 

Kondisi ini dapat dimanfaatkan attacker dengan membuat website yang menyerupai aset resmi untuk mengelabui pengguna.

Dengan meniru domain, logo, desain, hingga konten perusahaan, fake website dapat terlihat meyakinkan dan digunakan untuk phishing maupun penipuan. 

Untuk mengurangi risiko tersebut, perusahaan perlu mendeteksi fake website dan mengambil langkah perlindungan terhadap identitas brand.

Apa Itu Fake Website?

Fake website adalah website yang dibuat untuk meniru website resmi atau identitas digital suatu perusahaan, organisasi, maupun brand.

Website tersebut dapat menggunakan nama domain, logo, desain, dan konten yang menyerupai aset resmi untuk membangun kepercayaan pengguna. 

Dalam beberapa kasus, fake website digunakan untuk phishing, pencurian informasi, fraud, atau aktivitas lain yang merugikan.

Bagi perusahaan, fake website juga dapat menjadi bentuk brand impersonation karena menggunakan identitas brand tanpa izin.

Mengapa Attacker Membuat Fake Website?

Fake website dapat digunakan untuk menyalahgunakan reputasi perusahaan. Beberapa tujuan utamanya sebagai berikut:

1. Mencuri Informasi Pengguna

Fake website dapat dibuat menyerupai halaman login atau formulir resmi untuk mengumpulkan credential, data pribadi, maupun informasi pembayaran.

2. Melakukan Phishing

Attacker dapat menggunakan fake website sebagai tujuan akhir dari link phishing. Ketika pengguna mengaksesnya, mereka dapat diarahkan untuk memberikan informasi atau melakukan tindakan tertentu.

3. Menyalahgunakan Identitas Brand

Nama, logo, dan identitas visual perusahaan dapat digunakan untuk membuat website terlihat resmi dan meningkatkan kepercayaan korban.

4. Melakukan Penipuan

Fake website juga dapat digunakan untuk menawarkan produk, layanan, promosi, atau transaksi palsu dengan mengatasnamakan perusahaan.

Baca juga: Executive Impersonation: Risiko, Dampak dan Cara Mencegahnya

Ciri-Ciri Fake Website

Fake website dapat dibuat menyerupai aset resmi, beberapa indikator ini dapat membantu mengenalinya sebagai berikut:

1. Domain Tidak Sesuai

Perhatikan domain yang menggunakan typo, tambahan kata, atau variasi yang menyerupai domain resmi. Misalnya, domain resmi company.com dapat ditiru melalui company-login.com.

2. URL Mencurigakan

URL yang tidak sesuai dengan channel resmi, memiliki struktur tidak wajar, atau mengarahkan pengguna ke domain berbeda perlu diperiksa lebih lanjut.

3. Tampilan Meniru Brand

Fake website dapat menggunakan logo, desain, gambar, dan konten yang menyerupai website resmi untuk membangun kredibilitas.

4. Meminta Informasi Sensitif

Website yang meminta credential, data pribadi, atau informasi pembayaran secara tidak wajar perlu diwaspadai.

Jenis Fake Website

Terdapat beberapa jenis fake website yang umum digunakan attacker untuk meniru atau menyalahgunakan identitas brand, antara lain:

1. Website yang Meniru Brand Resmi

Website dibuat menyerupai website perusahaan dengan menggunakan nama, logo, desain, atau konten yang mirip dengan aset resmi. 

Tujuan dari fake website ini adalah membangun kepercayaan pengguna sebelum melakukan aktivitas penipuan.

2. Website dengan Domain Palsu atau Mirip

Attacker membuat domain yang menyerupai domain resmi, seperti menggunakan typo, tambahan kata, atau variasi karakter tertentu agar terlihat seperti website asli.

3. Website Login Palsu untuk Mencuri Informasi

Website dibuat menyerupai halaman login resmi untuk mengelabui pengguna agar memasukkan credential, data pribadi, atau informasi pembayaran.

4. Website Promo atau Transaksi Palsu

Attacker menggunakan identitas brand untuk membuat website yang menawarkan produk, layanan, promo, atau transaksi palsu. 

Website tersebut dibuat agar pengguna percaya bahwa penawaran berasal dari perusahaan resmi.

5. Website dengan Konten atau File Berbahaya

Beberapa fake website digunakan untuk mengarahkan pengguna mengunduh file mencurigakan, membuka halaman berbahaya, atau mengikuti instruksi yang dapat membahayakan perangkat maupun data pengguna.

Baca juga: External Attack Surface Management: Fungsi, Manfaat, dan Contohnya

Cara Mendeteksi dan Mencegah Fake Website

Bagi perusahaan, fake website detection mampu menangani website yang berpotensi menyalahgunakan identitas brand melalui beberapa langkah sebagai berikut:

1. Memeriksa Domain

Perusahaan dapat membandingkan domain dengan domain resmi untuk menemukan variasi seperti typo atau penambahan kata.

Penelitian Wang et al. (2025) menemukan lebih dari 2,3 juta domain yang berpotensi merupakan typosquatting. 

Temuan ini menunjukkan bahwa variasi domain merupakan bagian dari external digital risk yang perlu dipantau.

Namun, domain bukan satu-satunya indikator. Elemen lain pada website juga perlu diperiksa untuk memastikan potensi penyalahgunaan brand.

2. Menganalisis Konten Website

Elemen seperti logo, gambar, copywriting, struktur halaman, dan formulir dapat dianalisis untuk melihat apakah sebuah website meniru identitas resmi perusahaan.

3. Memantau Aset Secara Berkelanjutan

Setelah aset teridentifikasi, monitoring berkelanjutan membantu perusahaan mengikuti perubahan pada domain, konten, dan aktivitas website. 

Pendekatan ini juga membantu menemukan aset baru yang berpotensi menyalahgunakan identitas brand.

4. Menggunakan Threat Intelligence untuk Menentukan Prioritas

Threat intelligence memberikan konteks tambahan mengenai domain, infrastruktur, dan aktivitas yang terkait dengan aset mencurigakan. 

Informasi tersebut membantu tim menentukan aset yang perlu diprioritaskan untuk ditindaklanjuti.

5. Menjalankan Proses Mitigasi

Setelah potensi ancaman dikonfirmasi, perusahaan dapat melakukan investigasi, melaporkan aset berbahaya, atau mengajukan takedown melalui pihak terkait. 

Dengan menghapus website palsu tersebut, perusahaan dapat mengurangi potensi risiko terhadap brand dan pelanggan.

6. Melindungi dan Mengedukasi Pelanggan

Perusahaan dapat menggunakan hasil monitoring untuk mengidentifikasi channel yang tidak resmi dan menginformasikan channel resmi kepada pelanggan. 

Langkah ini membantu mengurangi kemungkinan pelanggan berinteraksi dengan website palsu atau memberikan informasi sensitif.

Baca juga: Brand Intelligence: Cara Melindungi Identitas Digital Perusahaan dari Ancaman Siber

Cyble Brand Intelligence untuk Mendeteksi Fake Website

Fake website dapat muncul di luar aset digital resmi dan sulit ditemukan melalui monitoring internal. 

Karena itu, perusahaan membutuhkan visibilitas terhadap penggunaan identitas brand di berbagai platform digital.

IDstar merupakan partner resmi Cyble yang menghadirkan Brand Intelligence untuk membantu perusahaan mendeteksi fake website, phishing, suspicious domains, dan brand impersonation.

Melalui solusi ini, perusahaan dapat:

  • mendeteksi website dan domain yang berpotensi meniru brand
  • memantau penyalahgunaan identitas digital
  • memperoleh konteks threat intelligence terkait aset mencurigakan
  • mendukung proses investigasi dan takedown

Cyble menggabungkan deteksi berkelanjutan dan takedown untuk membantu menangani ancaman seperti phishing, fake domains, dan impersonation.

Didukung oleh 400+ proses bisnis yang berhasil diotomatisasi, 80+ klien enterprise, 1.200+ talenta IT, serta sertifikasi ISO 9001 dan ISO 27001, IDstar membantu perusahaan memperkuat perlindungan digital bersama Cyble.

References:
Cyble. “Brand Monitoring, Intelligence & Protection Solutions”. 

Microsoft. “Phishing campaign impersonates Booking.com, delivers a suite of credential-stealing malware.” 2025.

Wang et al. “Squatspotting: Towards the Systematic Measurement of Typosquatting Techniques.” 2025.

FAQ

1. Apa itu fake website?

Fake website adalah website yang dibuat untuk meniru website atau identitas digital resmi suatu perusahaan dan dapat digunakan untuk phishing, fraud, pencurian informasi, atau brand impersonation.

2. Bagaimana cara mengetahui website palsu?

Website palsu dapat dikenali dengan memeriksa domain dan URL, tampilan yang meniru brand, serta permintaan informasi sensitif yang tidak wajar.

3. Mengapa fake website dibuat?

Fake website biasanya dibuat untuk mencuri informasi pengguna, melakukan phishing atau fraud, dan menyalahgunakan identitas serta reputasi brand.

4. Bagaimana cara mendeteksi fake website?

Perusahaan dapat mendeteksi fake website dengan memantau domain dan aset digital, menganalisis konten website, menggunakan threat intelligence, serta melakukan monitoring secara berkelanjutan.

5. Bagaimana cara melindungi brand dari fake website?

Perusahaan dapat melindungi brand dengan melakukan digital asset monitoring, mendeteksi website dan domain mencurigakan, melakukan investigasi dan takedown, serta mengedukasi pelanggan mengenai channel resmi.

Share:
IDstar insights