' Fee Headhunter: Mahal atau Justru Hemat? - IDstar

Fee Headhunter: Mahal atau Sebenarnya Lebih Hemat untuk Bisnis?

Ilustrasi Fee Headhunter Mahal atau Justru Hemat

Ketika perusahaan membuka lowongan kunci seperti IT Lead, manager, atau posisi senior lain, muncul pertanyaan klasik, apakah fee headhunter itu terlalu mahal?

Banyak pengambil keputusan HR atau founder fokus pada angka invoice. Padahal yang lebih penting adalah nilai bisnis yang dihasilkan dari proses pencarian kandidat yang tepat.

Artikel ini mengajak Anda mengevaluasi bukan sekadar nominal fee, tetapi total biaya dan manfaat hiring melalui headhunter.

Bagaimana Model Biaya Headhunter?

Headhunter berguna untuk mencari, menilai, dan mendekati kandidat yang relevan untuk posisi tertentu, terutama yang sulit diisi atau strategis (Floowi, 2024). Berikut adalah model biaya headhunter secara umum.

1. Success Fee (Berbasis Keberhasilan)

Model ini membuat perusahaan hanya membayar setelah kandidat resmi bergabung, sehingga risiko finansial di awal relatif lebih rendah.

Umumnya besaran success fee berkisar 20–30% dari gaji tahunan kandidat, tergantung kompleksitas posisi dan tingkat senioritasnya.

2. Retainer Fee (Pembayaran di Muka)

Pada model ini, perusahaan membayar sebagian biaya di awal sebagai komitmen kerja sama, terlepas dari hasil akhir pencarian kandidat.

Skema ini biasanya digunakan untuk posisi eksekutif senior atau peran strategis yang membutuhkan pendekatan lebih mendalam dan eksklusif (ProCapita, 2026).

3. Hybrid Model (Kombinasi Retainer dan Success Fee)

Hybrid model menggabungkan pembayaran awal dalam jumlah tertentu dan pelunasan setelah kandidat berhasil ditempatkan.

Pendekatan ini memberikan keseimbangan antara komitmen kedua belah pihak dan fleksibilitas biaya dalam proses headhunting.

Baca juga: Berapa Biaya Jasa Headhunter di Indonesia?

Kenapa Biaya Head­hunter Terlihat “Mahal”?

Penilaian mahal biasanya muncul karena fee headhunter dihitung sebagai persentase dari gaji kandidat, yang seringkali membuat angka absolutnya besar. Namun ada alasan mendasar di balik struktur biaya itu.

1. Kompleksitas dan Senioritas Posisi

Posisi yang strategis membutuhkan pencarian kandidat pasif, bukan yang aktif melamar. Headhunter harus melakukan research, pendekatan personal, dan negosiasi yang matang, sebuah proses yang membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak.

2. Kelangkaan Talent

Bidang khusus seperti cloud engineering, data science, atau cybersecurity sering kali memiliki sedikit kandidat berkualitas di pasar. Ini menaikkan biaya karena usaha sourcing semakin tinggi.

Selain itu, kandidat di area ini biasanya sudah bekerja dan tidak aktif mencari pekerjaan. Oleh karena itu membutuhkan pendekatan personal dan negosiasi yang lebih strategis dari headhunter.

Baca juga: Kenapa Susah Cari Developer yang Benar-Benar Siap Kerja?

Manfaat yang Sering Terlewat Saat Melihat Fee Saja

1. Efisiensi Waktu untuk Fokus ke Core Business

Headhunter meminimalkan waktu internal HR untuk sourcing, screening, serta koordinasi, proses yang seringkali memakan puluhan jam kerja tim internal (WRT, 2026).

Dengan demikian, tim manajemen dan HR dapat kembali fokus pada strategi bisnis dan pengembangan organisasi, bukan terjebak pada proses administratif yang panjang.

2. Akses ke Kandidat Pasif

Sebagian besar talenta terbaik tidak aktif mencari kerja melalui iklan lowongan biasa. Headhunter punya jaringan dan pendekatan untuk menggaet mereka (Floowi, 2024).

Pendekatan proaktif ini membuka peluang mendapatkan kandidat berkualitas yang tidak tersedia di job portal publik.

3. Risiko Hiring yang Lebih Rendah

Salah pilih kandidat bisa membawa biaya tersembunyi seperti produktivitas turun, pelatihan ulang, hingga pengulangan proses hiring yang jauh lebih mahal daripada fee headhunter itu sendiri (NIC Global, 2025).

Dengan proses kurasi dan screening yang lebih mendalam, headhunter membantu meminimalkan potensi mismatch antara kebutuhan bisnis dan kompetensi kandidat.

Baca juga: Cari Tahu Perbedaan Headhunter dan Recruiter

Fee Headhunter vs Biaya Rekrut Internal, Mana Lebih Hemat?

Jika hanya melihat biaya langsung, hiring internal memang tampak lebih murah karena tidak ada invoice fee eksternal.

Namun, bila Anda menghitung total biaya termasuk waktu HR, peluang kehilangan kandidat terbaik, serta risiko salah rekrut, biaya internal sering lebih tinggi dalam jangka panjang (DevsData, 2026).

Eksperimen di banyak perusahaan menunjukkan bahwa menggunakan justru lebih hemat jika dibandingkan potensi risiko dan overhead internal untuk posisi yang sulit diisi atau strategis (NIC Global, 2025).

Kapan Fee Headhunter Justru Menjadi Investasi Hemat?

Berikut skenario di mana biaya headhunter bisa lebih hemat secara keseluruhan. Hal-hal berikut merupakan tolok ukur yang menjadikan biaya rekrut menggunakan headhunter justru lebih hemat.

1. Posisi Strategis atau Sulit Diisi

Untuk peran seperti CTO, Head of Engineering, atau niche IT specialist, headhunter sering kali mempercepat time-to-hire dan menemukan talenta yang sulit ditemukan lewat jalur biasa.

Posisi seperti ini biasanya memiliki dampak langsung terhadap arah bisnis, sehingga keterlambatan pengisian role dapat menghambat roadmap produk, inovasi, bahkan potensi revenue perusahaan.

2. Tidak Punya Talent Acquisition Internal Kuat

Perusahaan yang belum punya tim HR berpengalaman sering membayar lebih banyak biaya tersembunyi, seperti iklan lowongan yang tidak efektif dibanding menggunakan headhunter profesional.

Tanpa proses screening yang matang dan jaringan kandidat yang tepat, proses hiring bisa berulang kali gagal dan justru menguras waktu manajemen serta biaya operasional.

3. Waktu Hiring yang Ketat

Jika perusahaan butuh kandidat dalam waktu singkat tanpa kompromi kualitas, headhunter bisa memangkas waktu sourcing dan screening menjadi jauh lebih efisien.

Dalam kondisi kompetitif, kandidat terbaik sering menerima lebih dari satu penawaran. Dengan demikian kecepatan dan ketepatan proses menjadi faktor krusial agar perusahaan tidak kehilangan talenta unggulan.

Baca juga: Rekrut Sendiri vs Pakai Headhunter, Mana yang Lebih Efisien untuk HR?

IDstar, IT Headhunter dengan Biaya Transparan dan Terjangkau

Dalam bisnis apa pun, transparansi biaya menjadi faktor penting saat memilih partner perekrutan, dan IDstar menjawab kebutuhan itu dengan pendekatan yang jelas sejak awal.

Berbeda dari model persentase gaji tahunan yang bisa membengkak, IDstar menerapkan flat fee mulai Rp7,5 juta per kandidat berhasil join, tanpa retainer dan dibayar setelah kandidat resmi bergabung sehingga anggaran lebih terkontrol.

Kualitas tetap menjadi prioritas melalui jaringan 1.200+ talenta IT terkurasi yang siap interview, sehingga perusahaan tidak membuang waktu pada kandidat yang tidak relevan.

Ditambah garansi penggantian hingga 30 hari tanpa biaya tambahan, risiko salah rekrut pun dapat diminimalkan secara signifikan.

Dengan pendekatan seperti ini, biaya jelas, proses terukur, dan hasil yang relevan. Artinya, IDstar membuktikan bahwa perekrutan talenta IT bukan sekadar biaya tinggi, melainkan investasi strategis yang lebih hemat dan pasti bagi perusahaan yang ingin mempercepat pertumbuhan tim teknologi mereka.

Baca juga: IDstar sebagai IT Headhunter Indonesia Terbaik

Fee Headhunter Bukan Sekadar Biaya, Tapi Keputusan Strategis

Fee headhunter sering terlihat mahal jika hanya dilihat dari nominalnya. Namun, dihitung dari banyak faktor, termasuk total cost of hiring dan waktu yang terbuang, headhunter justru bisa menjadi keputusan yang lebih hemat dan strategis.

Sebagai headhunter yang fokus pada talenta IT dan digital, IDstar menghadirkan pendekatan yang lebih pasti dan transparan dengan flat fee mulai Rp7,5 juta per headcount, tanpa retainer dan dibayarkan saat kandidat resmi join.

Didukung jaringan talenta IT terkurasi serta garansi penggantian, IDstar membantu perusahaan mendapatkan kandidat yang tepat dengan risiko lebih rendah dan biaya yang jelas sejak awal.

Jika Anda ingin proses hiring IT yang cepat, terukur, dan tanpa kejutan biaya, saatnya memilih partner yang memahami kebutuhan teknologi Anda secara spesifik. Digital Transformation? #IDstarinAja


Referensi Kredibel:

  1. DevsData. (2025). How much does it cost to hire a headhunter?
  2. FloowiTalent. (2025). How much does it cost to hire a headhunter and is it worth it?
  3. NIC. (2025). Headhunter Services: Expensive or Cost-Effective? A Long-Term Perspective
  4. ProCapita. (2026). Headhunters vs recruitment agencies in Indonesia.
  5. WowRemoteTeams. (2026). Headhunter vs recruiter: Who finds tech talent better?

Saatnya Bisnis Anda Bergerak Lebih Cepat

Tinggalkan proses manual.
Gunakan Agentic Automation dan IT Outsourcing dari IDstar untuk kerja lebih cepat, efisien, dan scalable.

Share:

IDstar insights

Alongside with 7000+ Subscribers

Get the latest news about IT industry from IDstar directly to your email





We value your data safety. View Privacy Policy

agent Chat Us
×